Seorang Panglima, Seorang Martir

Judul : Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir

Pengarang : TEMPO

Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Tahun Terbit : Desember 2012

ISBN : 978-979-91-0524-0

Tebal : xiv + 160 halaman

Dokumentasi sejarah seri tokoh militer yang ditulis oleh TEMPO ini merupakan buku kedua dari tiga seri yang sudah diterbitkan. Kali ini TEMPO mengulas mengenai seorang pahlawan bangsa yang sangat berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari medan peperangan. Ialah yang kita kenal sebagai Jenderal Soedirman. Tentu kita kurang lebih kenal dengan sosok Jenderal Soedirman. Seorang yang gagah perkasa, yang ahli menggunakan senjata api dan dapat menembak tepat sasaran hanya dalam sekali kesempatan. Barangkali bayangan-bayangan seperti itulah yang seringkali muncul dalam benak kita ketika mendengar kata “jenderal”, seperti tentara-tentara yang sering kita lihat┬ádalam film laga.

Namun, pernahkah kita membayangkan sisi gelap dari kehidupan seorang tentara? Kita terkadang terlena hanya akan kebesaran seorang hingga melupakan perjuangannya. Jenderal Soedirman memang seorang tentara yang besar hingga namanya dimasukkan dalam daftar pahlawan nasional dan dijadikan nama jalan protokol di DKI Jakarta. Akan tetapi, perjuangannya jauh lebih besar daripada pencapaiannya setelahnya. Ia harus bergerilya dengan kekuatan setengah paru-paru. Ia harus berada di atas tandu selama delapan bulan keluar-masuk hutan. Ia harus berperang melawan Belanda ketika Soekarno-Hatta diasingkan Belanda.

Soedirman hanya menerima pendidikan sederhana dari guru HIS Muhammadiyah Cilacap. Namun, rasa nasionalisme dan patriotismenya pada tanah air Indonesia sangat tinggi. Ia lebih mementingkan kesehatan Republik Indonesia daripada kesehatan dirinya sendiri. Maka, ia sering sekali terserang penyakit, mulai dari demam ringan hingga TBC yang membuat paru-paru kanannya harus diistirahatkan selamanya. Sebagai seorang tentara, Soedirman menolak menyerah. Ketika Soekarno membujuknya untuk berdiam di Yogyakarta ketika Agresi Militer II berlangsung, ia menolak dan pergi ke Jawa Timur untuk memulai perang gerilya. Soekarno yang tetap berada di Yogyakarta akhirnya tertangkap Belanda bersama-sama dengan pejabat tinggi lainnya seperti Hatta dan Sjahrir.

Saat itu belum ada perundang-undangan resmi yang mengatur keterlibatan tentara dalam perpolitikan. Soedirman pun berubah-ubah haluan politik. Ada kalanya ia dekat dengan kubu Amir Sjarifoeddin, ada kalanya ia rapat dengan Tan Malaka, ada pula saatnya ia tidak berhaluan alias netral dan mendukung pemerintah. Ia ikut merasakan pergerakan politik yang tidak stabil di Indonesia saat itu.

Soedirman dinobatkan menjadi panglima besar TNI di pengujung hidupnya. Di tahun yang sama, Soedirman wafat dalam usia yang relatif muda, 34 tahun, karena TBC berkepanjangan yang dideritanya. Ia pergi meninggalkan cita-cita dan harapan besar bagi terciptanya sebuah negara yang berdaulat atas dirinya sendiri.

Buku ini dengan sangat baik mengisahkan hidup Soedirman dari berbagai sudut pandang dengan menyertakan kesaksian-kesaksian beberapa orang sezamannya yang masih hidup. Selain itu, detil-detil juga menambah kejelasan isi buku ini. Namun, keruntutan alur cerita beberapa bagian Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir kurang terjaga dan banyak terjadi pengulangan isi. Akan tetapi, secara keseluruhan buku ini cukup mudah dicerna dan dipahami. Semoga ulasan singkat ini dapat menumbuhkan minat para siswa untuk turut serta membaca buku ini. Sekian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *