Soe Hok Gie

Judul: Soe Hok Gie… Sekali Lagi
Penulis: Rudy Badil dkk
Penerbit: KPG
Ketebalan: 512 halaman
ISBN: 9789799102195

Namanya terselip di akhir perbincangan singkat kami perihal kerusuhan di Jakarta tahun 1998. “Coba baca buku biografi Soe Hok Gie,” kata Bu Gita, rekan kerja yang lahir besar di Jakarta dan sempat merasakan suramnya ibukota pada tahun itu. Gie bukan seorang mahasiswa aktivis yang terlibat pada tragedi tersebut karena ia sendiri telah menemui keabadian hidupnya sebelum menyaksikan Soeharto turun takhta. Namun entah mengapa Bu Gita menyarankan kami, perempuan-perempuan berumur dua puluhan yang berasal dari kampung dan buta akan peristiwa-peristiwa bersejarah di Indonesia untuk membaca buku tentang Soe Hok Gie setelah kami membahas secuil kisah memilukan tersebut. Saat itu, saya belum memiliki rasa antusias untuk mencari Gie. Saya hanya melihat sekilas videonya di youtube lalu membaca artikel-artikel daring terkait peristiwa tragis 1998.

Dan tanpa direncanakan, di sore hari sebelum pulang kerja, kami bertemu kembali dengan Bu Gita. Meskipun pembahasannya masih tentang sesuatu yang sadis, namun di pertemuan kali itu, kami membahas Partai Komunis Indonesia (PKI). Kami mendengar ketidakadilan terjadi pada keluarga yang salah satu anggota keluarganya pernah terlibat dengan PKI. Mereka dicap buruk dan kesulitan mencari pekerjaan padahal mereka tidak melakukan kejahatan. Cerita seperti ini tidak saya dapati selama saya mengikuti mata pelajaran Sejarah di sekolah (SMP dan SMA). Lagi-lagi, di akhir cerita, Bu Gita merekomendasi kami untuk membaca buku terkait Soe Hok Gie.

Karena sudah disebutkan lebih dari sekali, saya menjadi penasaran dengan sosok tersebut. Setiba di kamar indekos, saya membuka kembali youtube tapi belum menemukan sesuatu yang istimewa dari seorang Gie. Akhirnya rasa penasaran saya cukup sampai di situ. Tibalah suatu hari, di tengah jam kerja, kepala saya hampir mendarat di meja karena kantuk yang hebat. Tidur di meja pada jam kerja adalah hal yang sangat terlarang bagi seorang petugas perpustakaan meskipun pekerjaan rutinnya telah selesai. Akhirnya saya putuskan menghampiri rak 9XX (Geografi dan Sejarah) dengan harapan satu langkah kaki saya dapat mencelikkan mata saya. Saya amat-amati buku mana yang akan saya baca, ternyata buku Multatuli berjudul  Max Havelaar cukup menggoda. Saya ambil buku tersebut lalu kembali ke meja untuk bertamasya. Baru menjalani beberapa lembar, rasa kantuk mencobai saya lebih keras. Saya kembali ke rak 9XX, mencari-cari buku pengganti yang kira-kira mampu menghentikan pencobaan itu. Saya lirik dari susunan paling atas sampai bawah, dan akhirnya mata kami bertemu: mata saya dan mata Gie dalam sampul buku Soe Hok Gie…Sekali Lagi (versi lama). Suara Bu Gita terngiang di kepala saya, dan akhirnya dengan mantap saya menerima uluran tangannya. Bukan saya yang membawa Gie ke meja saya, tapi teman-temannya yang mengiring saya untuk duduk manis demi mendengarkan suara mereka tentang pemuda yang idealis.

Ternyata buku tebal bernilai histori tersebut ampuh mengusir rasa kantuk, menyalakan semangat yang sempat redup karena jam kerja yang belum berakhir. Siapa sangka, bagian pertama yang dikisahkan oleh Rudy Badil sanggup menguasai hati saya sampai saya tidak kuasa menahan air mata. Ada yang paling diingat ketika jatuh cinta pertama kali pada seseorang atau saat pertama kali bertemu dengan sesosok yang istimewa. Di pertemuan pertama saya dengan Gie oleh rekan-rekan dan mereka yang menyayanginya, Gie menampilkan kekeraskepalaannya dengan logika yang jernih (Rudy Badil menyebutkan, tiap berdebat, Soe Hok Gie selalu memakai data dan logika yang cerah). Karakternya tersebut yang membuat saya mulai jatuh hati dan bersemangat mendengar kisah-kisahnya, kantuk pun melarikan diri. Tanpa sadar, saya harus berbenah karena jam kerja sudah berakhir: perpustakaan harus ditutup!

Cerita tentang kekeraskepalaan Gie disambung dengan kecerdasan, keberanian, dan ketangguhannya. Saya pikir ia adalah seorang pemuda dengan segala kelimpahannya dari Sang Pencipta. Tentu tak sedikit orang yang cerdas, berani, tangguh dengan prinsip pribadinya yang kuat. Lalu, apa yang membuat Gie berbeda dengan yang lain? Gie berani maju melawan ketidakadilan dengan segala risiko, Gie tidak bungkam akan kemunafikan khususnya di bawah pemerintahan Soekarno, Gie mengecam tindakan balas dendam kepada mereka yang pernah berlaku sewenang-wenang, Gie tidak pandang bulu, Gie punya air mata dan hati! Akhirnya saya mengerti mengapa saat bercerita tentang PKI dan  kasus 1998 (meskipun tidak ada seorang Gie di sana), Bu Gita menyarankan kami membaca buku biografi Soe Hok Gie atau yang terkait dengannya. Gie adalah salah satu model pendemo yang berani turun ke lapangan karena sungguh-sungguh memikirkan nasib bangsa.

Dari penuturan sahabat-sahabat sekaligus mereka yang menyayangi Gie, saya tahu bahwa Gie bukan orang yang sembarangan. Karakternya yang kuat di usia muda membuat Gie dicintai oleh orang-orang yang mencintai kejujuran. Prinsipnya yang  teguh di tengah kebobrokan hidup menjadi teladan bagi saya pribadi hingga detik ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *